Selasa, 28 Juni 2011

Jangan main-main dengan " Perasaan"

Perasaan adalah suatu bentuk rasa yang dimiliki oleh setiap insan yang dianugrahkan oleh Allah SWT . Berbagai rasa yang dimiliki oleh individu berupa rasa senang, bahagia , marah, kecewa,sedih, jatuh cinta, berdebar-debar, gelisah ,gemetar wah banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan perasaan . Dan kita tak akan pernah bisa memungkiri datangnya perasaan itu secara tiba-tiba. Ingat dari cerita teman ku yang mengatakan salah gak sih apabila saat ini saya masih memiliki perasaan berdebar saat orang masa laluku menghubungiku melalui chatingan di f b. Dan waktu itu aku hanya tersenyum saat temanku bertanya. Dan aku juga pernah bertanya juga mendiskusikan dengan beberapa rekan-rekanku yang pernah mengalami mungkin bisa dikatakan perilaku menyimpang ( sorry ya) tentang perasaan ini. Dan jawaban dari rekan ku berdasarkan hasil diskusi tersebut dikatakan selama masih berada dalam pemikiran ya tidak ada yang bisa menyalahkan . Aku tak membicarakan tentang dosa yang telah dilakukan berkaitan dengan main-main perasaan . Karena hal itu bukanlah kapasitasku. Tetapi apabila kita dengan begitu sakleknya menerapkan urusan main-main dengan perasaan ini menjadi suatu kesalahan maka akan banyak sekali kasus ‘perselingkuhan ‘ tingkat rendah yang harus segera diatasi. Menurut aku urusan berdebar –debar itu hal yang manusiawi karena dengan kita masih memiliki rasa itu berarti tidak tumpul rasa kita kepada individu lain. Tetapi mungkin yang tetap harus diingat dan dijaga dari perasaan yang ada dalam diri kita adalah tetap berada dalam jalur yang memang sah. Dan aku sendiri bingung membahas tentang perasaan ini. Karena urusan perasaan tidak seperti hitungan matematika yang langsung dapat terdeteksi satu ditambah satu sama dengan dua. Urusan perasaan berkaitan dengan rasa subjektif yang merasakan. Bisa saja menurutku etika dan norma di masyarakat tidak baik tetapi ternyata bersemayam dalam hati dan perasaan kita. Dan hanya kita yang memiliki perasan tersebutlah yang harus tau dan bisa menjaganya dengan baik. Sekali lagi jadi ingat dengan komentar temanku “ Jangan main-main dengan perasaan”

Beri kesempatan

Bu tolong beri kesempatan pada anak saya , Sekolah kan mempunyai tugas untuk membimbing siswa yang berprilaku kurang baik menjadi lebih santun. Apabila sekolah hanya menerima siswa yang baik-baik saja . Sama saja dong tidak ada tantangannya. Itu dialog yang diucapkan oleh orang tua siswa tentang putranya yang dengan berat hati harus disarankan pindah. Saya pribadi setuju dengan pendapat orang tua tersebut. Lembaga pendidikan memang mempunyai tugas membuat siswa menjadi lebih mandiri. Dan diharapkan sebagai pendidik pun siap menerima siswa dalam bentuk yang beraneka ragam. Aku mengatakan pada dasarnya saya siap untuk membimbing putra bapak hingga mereka lulus tetapi aku tak mungkin menjadi agen perubahan seorang diri .Dan putra bapak bukan diajar oleh seorang guru saja. Sambil berurai airmata orang tua tersebut mengatakan apabila putra saya tak di beri kesempatan belajar di lembaga ini , lebih baik tidak usah sekolah saja . Aku dihempas dalam kebimbangan lantas berkata ya tetapi lembaga ini pun mempunyai standar dan aturan yang harus di patuhi. Tidak mudah mengambil keputusan untuk permasalahan yang dihadapi oleh siswa ku ini. Sampai akhirnya aku mengatakan pada pengambil kebijakan saat mereka bertanya apa pendapatku apabila kita ingin menerapkan peraturan sesuai dengan aturan yang ada , abaikan saja sisi kemanusiaan . Namun apabila lembaga ini masih berbicara kemanusiaan beri kesempatan pada siswa itu pak. Proses mendidik tidak akan terlihat hasilnya dalam kurun waktu hari ini diajar besok sudah mengalami perubahan . Kata orang bijak filsuf China mengatakan jika ingin memetik hasilnya dalam setahun tanamlah sayuran.Jika ingin memetik hasilnya dalam 100 tahun tanamlah manusia. Mungkin saya pun tak akan dapat menikmati hasilnya jangka waktu sekarang ini tetapi paling tidak kita telah menanam kebaikan yang bisa diharapkan akan membuat anak didik menjadi manusia yang diterima dengan baik apa adanya dirinya.

Jumat, 24 Juni 2011

Harapan baru

Kemarin aku dan beberapa rekanku sesama guru pembimbing dipanggil untuk menghadap ke kepala sekolah yang baru. Untuk berdiskusi tentang banyak hal yang berkaitan dengan perkembangan siswa. Rasanya cukup lama kurang lebih hampir 5 tahun tak merasakan diperlakukan sebagai rekan kerja oleh atasan. 2 pemimpin sebelum yang saat ini dengan gelar yang begitu banyak melekat pada namanya sampai-sampai kami agak khawatir juga saat harus berbicara karena takut salah mengucapkan sesuatu hal. Dan juga merasakan ada jarak yang terbentang cukup dalam antara harapan sang pemimpin dan harapan sang bawahan...Sering kali suatu program yang baik dari seorang pemimpin dengan gelar yang panjang tak mampu juga dilaksanakan dengan baik karena tak terjadi komunikasi yang baik antara bawahan dan atasan. Sang atasan dengan konsep berpikirnya , harapan juga visi masa depan yang belum tentu juga untuk kepentingan bersama....mungkin lebih kepada pencitraan diri sang pemimpin. Dan itulah yang kurasakan selama hampir 5 tahun terakhir ini. Tak merasakan ada regenerasi bahkan mungkin lebih bisa disebut dengan penghambatan karier seseorang manakala tak sesuai dengan kemauan atasan . Ada unsur senang dan tidak senang di dalamnya.Padahal kami para bawahannya juga mengalami penambahan usia. Saat berpikir positif penghambatan karier mungkin bertujuan mematangkan pribadi bawahannya. Agar dapat berpikir jernih, tak temperamen dan lebih bijak saat mengambil keputusan. Tapi manakala berpikir negatif yang terlintas dalam pikiran adalah like n' dislike terhadap nasib karier seseorang.Seperti bahasa iklan Kalo bisa dibuat susah...kenapa dibuat mudah.... Dan manakala hadir pemimpin yang tak bergelar panjang dengan pendekatan yang berbeda, tiba-tiba ada harapan baru akan dimanusiakan sebagai rekan kerja. Yang akan mendukung program yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Yang akan menjalani kegiatan dengan keiklasan sebagai pekerja.

Rabu, 22 Juni 2011

Belajar memahami pendapat

Cukup alot rapat kenaikan kelas yang dilakukan tadi siang. Membahas tentang nilai-nilai akademis yang telah diperoleh oleh siswa/i selama 1 tahun pelajaran. Tarik ulur terjadi manakala mulai bersinggungan dengan perilaku budi pekerti siswa yang dalam pengamatan guru 'bermasalah'.Tak bermaksud menuduh bahwa ada unsur kepentingan yang terjadi di dalamnya . Yang pasti semua mengemukakan pendapat berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Agak sulit manakala pendapat yang dkemukakan disertai dengan argumen yang memaksakan kehendak. Dan saat pendapatnya tak diterima berbalik menjadi alasan pembenaran manakala di kemudian hari terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Jadi ingat iklan salah satu produk rokok dahulu "susah ya jadi manusia" yang diperankan oleh beberapa orang utan yang sedang duduk bersantai mengamati manusia yang ada di sekitar orang utan itu... Sekarang baru aku mulai berpikir pesan apa yang ada di balik iklan lucu itu. Mencoba sedikit menganalisa , analisa kasar berdasarkan pemahaman orang awam yang melihat dari satu sudut pandang saja. Bahwasanya si orang utan mengkasihani peran kita sebagai manusia yang tidak mau berusaha berbesar hati menerima perbedaan pendapat .

Selasa, 21 Juni 2011

Masih tentang Kejujuran

Mungkin tak akan pernah habis cerita tentang kejujuran . Setelah kasus ibu Siami dengan anaknya yang bernama Alif . Ternyata di tempatku bekerja pun aku menemukan cerita tentang kejujuran. Berawal dari selesai aku mengawas ujian dan beberapa siswaku bercerita tentang teman-temannya yang giat berusaha.Bagiku itu merupakan bagian dari perilaku siswa untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tetapi sebagai pembimbing aku tetap mempunyai tanggung jawab moral untuk memberitahukan kepada siswaku bahwa perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan terpuji.Saat aku ngobrol dengan salah satu dari siswaku dan aku memulai dengan bertanya berbagai hal tentang ujian yang baru saja berlalu hingga akhirnya dia mengatakan tanpa pernah merasa aku pojokkan bahwa kemarin pun saat ujian ia juga mencontek dan dia sudah lihat hasil ujiannya mendapat nilai yang terbaik." Terbaik " dengan segala 'usaha ' yang telah dilakukannya tentu . Mulailah aku mengetuk hati nuraninya tentang bagaimana pendapatnya dengan hal-hal yang berbau kejujuran. Tanpa kuduga dia menangis dan menyatakan bahwa yg dilakukan adalah perilaku salah dan tidak membanggakan . Dan setelah itu ternyata cerita itu berlanjut . Siswaku yang mendapat nilai terbaik itu bercerita lagi kepadaku bagaimana seandainya dia diumumkan sebagai siswa yang terbaik untuk mata pelajaran tersebut...saya takut bu. Dan aku tersenyum juga bertanya " jadi menurut kamu banggakah kamu mendapat nilai yang bagus dengan cara yang tidak baik? Siswaku menggeleng dan berkata saya kan sebenarnya gak niat dapat nilai terbaik bu....HAHAHA....Ya sudahlah anakku pelajaran berharga bagi kita semua , aku sebagai guru pembimbing mereka yang harus sering-sering memberi pengarahan tentang nilai-nilai kehidupan agar mereka dapat menjadi penerus bangsa yang bertanggung jawab dengan perilaku yang baik tentunya. Dan untuk siswaku terus belajar tentang kehidupan agar menjadi penerus bangsa yang baik juga.

Minggu, 19 Juni 2011

Selalu bergetar...

Kemarin siang aku menghadiri gladi kotor pementasan putriku untuk acara pesta kelas dan perpisahan kakak kelasnya.Cukup menyenangkan manakala melihat putriku dan teman-temannya yang tergabung dalam ekskul teater menampilkan permainan mereka .Walau terlihat masih kaku tapi cukup bisa dimaklumi untuk anak usia SD yang telah memiliki keberanian untuk tampil di depan banyak orang. Ya semoga saat penampilan esok di TIM tak lagi gemetar dan demam panggung. Dan kemudian acara gladi kotor tersebut diakhiri dengan penampilan para siswa kelas 6 yang bernyanyi sambil membacakan puisi 'terimakasih guru' . Dan sekonyong-konyong tanpa pernah ku mau menetes air mata dari sudut mataku dan dadaku bergetar hebat saat lagu terimakasih guru di nyanyikan oleh paduan suara kelas 6 . Jadi ingat juga manakala waktu sekolah dan harus berpisah dengan guru-guru yang telah memberi banyak memberi bekal ilmu. Penuh perjuangan dan berbagai kompetisi dengan banyak teman untuk mendapatkan nilai dan prestasi yang terbaik . Lirik lagu terimakasih guru yang membuat bergetar kira-kira seperti ini:
Terimakasihku...ku ucapkan
pada guru ku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
untuk bekalku nanti
Setiap hari ku di bimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu nasehat guruku
Terimakasihku guruku.....

Sabtu, 18 Juni 2011

Fenomena Gunung Es

Saat tadi menonton tayangan di TV One yang membahas tentang kejadian yang cukup menghebohkan di dunia pendidikan ' contek masal'. Cukup menyejukkan jawaban dari Mendiknas bapak Muhammad Nuh bahwa akhirnya beliau mengakui memang ada terjadi hal-hal yang melanggar prinsip kejujuran. Dan hal itu memprihatinkan. Walau diawal beliau sempat membantah tak terjadi hal-hal seperti itu. Aku yang berprofesi sebagai guru pun prihatin dengan kejadian itu . Terlepas apa pun motif nya tetapi cukup melukai hati nurani orang-orang yang masih memiliki hati nurani mungkin.Ya salah satunya aku mungkin.Benar apabila dikatakan perilaku nyontek ini seperti mendapati fenomena gunung es, yang terlihat hanya puncaknya saja. Seakan -akan hal yang tak mengapa . Atau bagian dari usaha yang harus dilakukan oleh siswa untuk mendapatkan nilai yang bagus tetapi ternyata di bawah gunung es tersebut sudah seperti akar yang menggerogoti sendi kehidupan berbangsa. Menggerogoti mental kita. Mungkin bisa dikatakan lebih jahat dari pengaruh narkoba. Karena yang di cuci adalah otak serta mental anak bangsa yang hanya diajarkan untuk bangga dengan hasil contekan. Kita orang tua sering kali hanya bangga dengan hasil yang di peroleh oleh putra-putri kita yang digambarkan berupa angka-angka pasti dan tak pernah bertanya apakah putra-putri kita yang saat ini sedang bersekolah benar-benar memahami ilmu-ilmu yang ditransfer oleh bapak dan ibu guru di sekolah ? Juga tak pernah sekalipun mungkin kita orang tua bertanya apakah putra-putri kita sudah memperolah kekayaan nurani. Kekayaan nurani berupa sikap jujur, toleransi, kasih sayang, sopan santun , menghargai perbedaan dan banyak lagi. Karena pada dasarnya keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada keberhasilan akademik semata-mata . Keberhasilan akademik mungkin dapat dievaluasi dengan ujian yang bisa dilakukan saat materi pelajaran telah selesai tetapi yang jauh lebih rumit adalah memberi pengajaran dan pendidikan mental kepada generasi penerus bangsa ini.Tak semudah membalikkan telapak tangan hari ini diajarkan tentang materi kejujuran esok hari para siswa berubah menjadi orang jujur. Dan teringat kembali apa yang diucapkan oleh Mendiknas bahwa dalam dunia yang dihadapi oleh para guru adalah mahluk hidup ciptaan Allah yang berkembang rasa dan pemikirannya. Juga ilmu yang tak berhenti . Jadi akan selalu ada , dan ada masalah -masalah baru yang harus dihadapi dengan kesiapan mental dari para guru dan orang tua. Karena setiap masalah yang datang dan berhasil dihadapi akan membuat si penyelesai masalah akan lebih bijak menghadapi masalah baru nantinya. Tetapi pernah ada kalimat yang sangat tidak bijak pernah aku dengar dari pemimpin di lembagaku yang berkata ' sudah kita beri 6 jam /minggu tak boleh ada masalah lagi ya di sekolah ini... langsung tanpa berpikir panjang aku sahutin pemimpin itu dengan mengatakan yang bener saja bu, kalau bicara dipikir dulu . Yang kita hadapi adalah mahluk hidup bukan benda mati yang tak bisa dan perduli apa pun juga.