Senin, 26 September 2011

Kebahagian

Beberapa hari yang lalu aku menghadiri pesta perkawinan anak rekan kerja yang sudah aku anggap seperti ibuku.Sorot kebahagian terpancar dalam raut wajahnya.Bercampur dengan wajah lelah dan sisa-sisa ketegangan . Aku jadi belajar banyak tentang kebahagian dan keikhlasan orang tua manakala harus rela melepaskan buah hatinya untuk bertemu dengan jodoh pujaan hati sang anak. Pasti bukan hal mudah untuk dilalui. Segenap acara dari prosesi pernikahan telah dilalui dan dipadu dengan acara adat yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa. Bersyukur aku bisa mengikuti kegiatan tersebut karena aku diajak untuk menjadi bagian dari keluarga yang merasakan moment-moment bahagia dari acara pernikahan itu. Menjadi orang tua adalah masa terindah namun mungkin juga tersulit dalam kehidupan yang harus dilalui setiap individu yang memutuskan hidup dalam bahtera keluarga. Diawali dengan menyatukan dua pribadi yang berbeda latar belakang pola asuh , budaya, kebiasaan dan lain-lain. Sampai kemudian diberi kepercayaan oleh Yang Maha Pengasih untuk menjaga dan membimbing ciptaanNYA . Mengasuh, menjaga, menyayangi , mendidik dan membesarkan putra-putrinya untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan berbudi luhur. Bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan oleh orang tua.

Tetapi pekerjaan berat yang dilalui selama bertahun membesarkan dan mendidik putra/putrinya seakan –akan terbayar dengan khidmatnya prosesi pernikahan yang dilakukan oleh buah hati yang dicintainya. Mengantarkan putra/putri tercinta memasuki gerbang kehidupan baru untuk menjadi orangtua baru yang juga dapat menularkan kebahagiaan bagi putra/putri kelak.

SEMOGA MENJADI KELUARGA YANG SAKINAH MAWADAH WARAHMA dan akupun dapat pula merasakan seperti yang dirasakan oleh rekan kerjaku itu menjadi orang tua yang bahagia suatu saat nanti.AMIN

Kamis, 22 September 2011

Jujur yang seperti apa....?

Jujur bukan hanya kata-kata yang mudah diucapkan tetapi jauh lebih sulit untuk melaksanakannya. Menurut buku pedoman penanaman buku pekerti luhur jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang , berkata apa adanya dan berani mengakui kesalahan serta rela berkorban untuk kebenaran . Dan hal ini diwujudkan dalam perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang serta rela berkorban untuk mempertahankan kebenaran . Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan Tuhan dan diri sendiri. Ada kejadian yang membuat saya sebagai guru di sekolah merenung manakala ada aduan dari beberapa siswa yang kecewa dengan sikap rekan kerja yang tak memberi toleransi karena telah menyampaikan kejujuran yang sebenarnya, malah mendapat hukuman sementara teman-teman dari siswa yang tak jujur malah dipercaya. Mahalnya harga kejujuran. Dan justru yang menjadi renungan lebih dalam lagi adalah sang rekan kerjaku sangat percaya dengan hasil tulisan walau dari berbagai perbincangan saat rapat kenaikan kelas beberapa rekan yang lain menginformasikan ketidak jujuran yang dilakukan oleh salah seorang siswa demi mendapatkan nilai yang baik . Tak bisakah menggunakan hati nuraninya untuk melihat kejujuran yang tak terlihat. Atau perilaku orang dewasa yang memang hanya suka dengan kejujuran yang di rekayasa. ? Karenanya jadi ingat beberapa komentar teman-temanku saat aku menuliskan tentang perilaku yang dilakukan oleh siswaku ketika kutanya saat siswaku presentasi kegiatannya , siswaku mengakui bahwa dia tak khawatir ketika mewawancarai perokok karena saat itu dia pun sedang merokok. Aku membuat tulisan tentang kejujuran yang ternyata membuat ku kaget dengan kejujuran yang di ucapkan oleh siswaku tersebut.Sehingga bermunculan komentar pembelajaran tuntas karena siswa berani berkata jujur.Alhamdulillah walau tetap terpana…..

Mau naik lupa turun

Di bulan-bulan terakhir ini issue tentang resufle kabinet sedang hangat dibicarakan . Deg-degan adalah kalimat yang paling tepat di sebutkan . Tetapi sebenarnya masalah issue tersebut bukan hanya terjadi dikalangan mentri yang memegang satu departemen tertentu dan membawahi berbagai individu yang didalam nya menyangkut hajat hidup mereka. Aku jadi teringat juga dengan kata-kata mau naik lupa turun. Begitu berduyun-duyunnya orang yang ingin naik dengan melakukan berbagai cara agar bisa terpenuhi harapannya untuk naik.Dan saat telah naik dan ada di posisi penentu kebijakan tak jarang mereka lupa ada saatnya juga mereka harus turun . Dan mulailah terjadi proses tarik ulur yang memperlihatkan ketidaksiapan mereka untuk turun. Seakan-akan turun dari jabatan adalah suatu hal yang akan menimbulkan aib karena dianggap telah melakukan kesalahan. Beberapa waktu yang lalu aku ngobrol dengan seorang rekan yang mengajar di sekolah lain. Cerita ngalor –ngidul sampai akhirnya berbicara tentang kasus yang sedang menimpa Anas Urbaningrum Ketua umum partai Demokrat, dan kegelisahan masyarakat awam yang khawatir dengan perilaku pemimpin negeri yang tak patut dicontoh sehingga berdampak pada berbagai bencana yang terjadi di negara tercinta ini. Cerita semakin seru manakala kukatakan pejabat kita sering ketakutan manakala harus turun dan tak lagi menjabat. Satu cerita nyata manakala ada salah satu pemimpin di sekolahku dan setelah dia mutasi ke beberapa sekolah lain dan saat mulai diterapkan aturan periodesasi jabatan kepala sekolah karena ketidaksiapan untuk turun jabatan yang terjadi kemudian adalah post power sindrom. Sindroma ketakutan karena tak lagi memiliki jabatan dan kekuasaan . Dahulu saat masih memiliki jabatan begitu bangga dan mengagungkan kekuasaannya berpikir seakan-akan jabatan dan kekuasaannya abadi. Berprilaku layaknya pejabat/ pemimpin yang arogan . Manakala karena factor usia atau regenerasi harus melepaskan jabatan prilaku saat menjabat dan memiliki kekuasaan tetap dibawa dalam keseharian . Dan keadaan seperti ini juga terjadi di tempatku bekerja. Kepala sekolah sudah berganti hingga 4 orang tetapi tetap tak ada pergantian wakilnya. Sangat betah dengan posisi orang kedua ( ingat lagu jadikan aku yang kedua….) Ketika usia semakin bertambah dan menjelang usia pensiun kembali memutar otak agar tetap berada pada posisi saat ini dengan cara bergerilya dan menyampaikan opini bahwa tak tega apabila pensiun keadaan sekolah menjadi kacau karena tak ada dirinya. Hebat ya jago banget …seakan –akan tidak ada orang yang seperti dirinya. Apabila mengutip kata-kata bijak yang pernah aku baca manakala seorang pemimpin masih dengan bangganya berkata “ lihat tak ada saya semua jadi kacau , “ berarti dia gagal meregenerasi bawahannya. Dan dalam ilmu manajemen hal itu juga termasuk kegagalan karena tak bisa membuat orang-orang di sekitarnya tergali potensi dirinya.

Kemana Identitasnya

Kaget

Terpana

Heran

Bertanya-tanya

Apa yang dicari

Apa yang diharap

Hanya ingin di puji

Melupakan identitas ?

Heran bercampur bingung saat mengikuti upacara bendera di tempatku bekerja. Di awal tahun ajaran permintaan pejabat di sekolah mengharapkan saat upacara bendera memakai bahasa Inggris dengan alasan mengarah pada sekolah internasional. Semua mematuhinya dan beramai-ramai menganggap hal yang baik karena internasional gitu lo….keren kan upacara bendera di hari Senin memakai bahasa Inggris. Tak ada yang menghalangi atau mengingatkan bahwa kegiatan tersebut merupakan cerminan dari bagian mencintai dan mengembangkan semangat nasionalisme. Berlalu dari minggu ke minggu berikutnya.Dan dihimbau saat membacakan teks apapun tidak lagi membacanya tapi diharapkan harus hafal. Cukup termotivasi juga sehingga petugas upacaranya berusaha menghafalkan teks-teks tersebut . Dan terkaget-kaget saat upacara yang sudah berlangsung beberapa waktu di lalui dengan pembacaan teks Pancasila menggunakan bahasa Inggris dan harus diikuti oleh seluruh peserta upacara.Wah hebat betul ….sudah internasional dari internasional . Jadi bingung sebenarnya yang dimaksud internasional itu yang seperti apa sih. Pengucapan menggunakan bahasa Indonesia saja masih rancu dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila belum seluruhnya dapat di aplikasikan dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara. Apalagi di ucapkan dengan menggunakan bahasa asing. Khawatirnya akan semakin jauh deh dari budaya bangsa,dan semakin jauh juga menggapai Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oh Internasional…? Demikian kuat menyihir sehingga melupakan budaya bangsa.

Senin, 12 September 2011

Ingin Internasional

Aku percaya setiap perubahan dapat menuju ke arah kebaikan atau keburukan . Walau niat perubahan ke arah kebaikan pun tak selalu prosesnya berjalan baik. Beberapa waktu yang lalu saat Presiden SBY membuka forum bilateral ASEAN yang bertempat di Jakarta sebagai tuan rumahnya ternyata juga mendapat tentangan dari berbagai pihak karena menganggap pak SBY tak memberi contoh untuk menunjukkan rasa nasionalismenya dengan memberi pidato berbahasa Indonesia. Dan cukup membingungkan juga manakala para pembesar atau orang-orang besar mulai mengkhawatirkan lunturnya jiwa nasionalis pada generasi muda tetapi ternyata tak memberi contoh bagaimana memupuk rasa nasionalisme . Malah menganggap segala sesuatu yang internasional seakan-akan jauh lebih baik. Salah satunya dengan penggunaan bahasa Indonesia. Begitu bangganya ketika mampu berbicara menggunakan bahasa asing ( Inggris ) dengan cukup fasih dan mencari-cari kosakata yang tepat untuk menyampaikan informasi ketika di wawancara menggunakan bahasa Indonesia.....Oh sedihnya . Padahal apabila diingat bagaimana perjuangan pahlawan ketika berkumpul untuk menyatukan satu bahasa, satu bangsa , satu tanah air yaitu Indonesia.
Dan keinginan untuk " Internasional" ternyata tak hanya merambat pada kalangan pejabat ( dalam hal penggunanaan bahasa asing) tapi juga menular di lingkungan sekolah. Bukan aku anti internasional atau tak suka berbahasa asing, tetapi menurutku sedikit aneh dan lucu saja apabila upacara bendera yang biasanya memakai bahasa Indonesia tiba-tiba karena proses menuju sekolah berstandar Internasional berubahlah penggunaan bahasanya menjadi bahasa asing. Mulai dari pembacaan susunan acara, pembacaan pembukaan UUD , janji siswa, dll.
Lagi-lagi jadi berpikir sebenarnya seperti apa sih yang dimaksud internasional . Selalu menggunakan bahasa asing, bergaya hidup asing, berpikiran asing ? Jangan-jangan nanti malah menjadi orang asing dengan dirinya sendiri . Tak memiliki akar yang kuat dengan budaya bangsanya sendiri.
Dan aku berdiskusi dengan teman kuliahku yang mengajar di sekolah yang terbilang sukses mengusung program berkelas internasional . Menurutnya internasional bukan hanya sekedar dalam penggunaan bahasa asing to....tapi lebih kepada perilaku yang menjunjung tinggi norma yang sebenarnya merupakan karakter bangsa kita juga dan saat ini mulai ditinggalkan dianggap gak internasional.Mengutip kata-kata yang pernah diucapkan oleh dosen Konseling Lintas Budaya yang juga mengajar di JIS ( Jakarta Internasional School) " tidak usah terlalu mengangkasa membumi sajalah " Tak perlulah membuat program yang terlalu muluk sehingga sulit dicapai dan hanya menjadi cerita ideal dalam kertas hvs . Semoga pemikiran ku tentang internasional ini dapat menjadi renungan harus internasional yang seperti apa ?

Jumat, 09 September 2011

Aku anak bunda

Mungkin terkesan sepele manakala aku mencantumkan begitu banyak hubungan kekerabatan antara ibu dan anak dalam profil FB ku. Saat itu FB lagi booming .Dan aku pun termasuk penggunanya yang cukup sering mencari data teman-teman lama yang tak bersua dan tak berkabar puluhan tahun. Dan betapa gembiranya saat satu persatu teman lama bisa diketahui keberadaannya dan akhirnya bisa berkirim kabar hingga mengadakan acara reuni SD, SMP , SMA hingga kuliah . Menyenangkan dan sangat membantu meski ada pro kontra keberadaan FB dapat membuat hubungan keluarga menjadi tak harmonis kata beberapa pemuka agama karena membuka peluang lagi untuk berhubungan dengan orang masa lalu , ah tau lah kalo soal itu menurutku kembali pada masing-masing pribadi sajalah.
Yang ingin aku ceritakan adalah tentang bagaimana saat fb sedang heboh siswa-siswi ku meminta hubungan kekerabatan denganku dan berharap aku mau menjadi ibu mereka. Aku merasa tersanjung dan senang walau mungkin hanya basa-basi tapi sisi geer ku berkata aku punya arti dalam hati siswa-siswi ku ...Alhamdulillah. Dan memang benar saja ada beberapa komentar yang bertanya dari teman lama atau teman sekarang , anak lu banyak amat nik? Dan aku menjawab dengan enteng saja ya mereka minta aku jadi ibunya dan aku pikir gak ada ruginya punya anak banyak tanpa harus melahirkan dan memberi biaya hidup ya aku tanggapi permintaan mereka. Tapi ternyata pernyataan yang sama diajukan pula oleh anak kandungku yang sempat protes, bunda kok anaknya banyak amat, anaknya bunda kan kakak dan adek...dan aku harus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka buah hatiku yang tak tergantikan oleh apapun tetapi ada bagian dalam hati ku yang juga diisi oleh semua siswa-siswi ku. Dan semuanya memberi ku cara untuk belajar tentang kehidupan . Terimakasih anakku...terimakasih anak didikku.

Minggu, 28 Agustus 2011

Harapan dan Kenyataan

Beberapa waktu yang lalu saat mendengar informasi yang menggembirakan dengan penuh antusias aku kunjungi mesin anjungan tunai mandiri untuk memastikan berita gembira itu.Berharap dan terus berharap semoga jumlah nominal yang tercantum dalam mesin ATM menggembirakan . Berulang lagi keesokan harinya dan masih dengan harapan yang sama. Tetapi hanya jumlah nominal yang masih seperti di awal aku melihat pertama kalinya. Akhirnya seperti banyolan yang sering aku dan temanku ungkap apabila merasa diperlakukan tak adil adalah " ya sudah selemah-lemahnya Iman, apalagi yang bisa kita lakukan selain mengumpat dan melontarkan sumpah serapah. Aku merasa belum memiliki keiklasan yang cukup kuat untuk tidak mengumpat dan sumpah serapah kepada pihak-pihak yang menurutku berwenang atas kebijakan ini.
Sampai akhirnya aku merasa lelah juga untuk menjadi pengumpat teladan.
Dan kembali ke pada fitrah ku sebagai manusia yang lemah ,aku berkata pada yang memiliki hidupku Ya Allah , apabila ini memang bagian rencanaMu , berikan aku kekuatan untuk tetap sabar dan hanya kepada Mu aku memohon segala kemudahan atas urusan-urusan yang kutemui. Dan buka kanlah segala simpul-simpul kesulitan tersebut. Namun apabila yang mempersulit adalah kebijakan manusia ciptaan Mu juga tolonglah ya Allah bukakan hati mereka untuk peka atas harapan orang-orang yang saat ini sedang mereka urus urusannya.AMIN