Minggu, 15 Mei 2011
Analisa Sidik Jari
Bahasa Iklan
Sabtu, 14 Mei 2011
Anak
Bicaralah pada kami tentang anak keturunan,
Maka jawabnya anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir
Namun tidak dari engkau
Mereka padamu tapi bukan hakmu
Berikan mereka kasih sayangmu
Tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu
Patut kau berikan rumah untuk raganya
Tapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tidak dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
namun jangan membuat mereka menyerupai mu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
pun tidak tenggelam di masa lalu.
Sebab pada mereka ada pikiran sendiri
UU Sisdiknas dan Nilai Pancasila
Kaget saat membaca berita di Kompas 12 Mei yang berjudul UU Sisdiknas berpaham pasar bebas Nilai-nilai Pancasila tidak menjadi landasan . Sebenarnya aku tidak begitu mengerti tentang UU tetapi akhirnya membuat aku mencari informasi secara pasti apa saja sih isi dari UU Sisdiknas itu. Karena dalam berita Kompas disebutkan paham kapitalisme dan privatisasi sangat terlihat jelas dalam pasal-pasal.Seperti adanya Rintisan Sekolah Bertaraf internasional dan Badan Hukum Pendidikan yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.Sebagai pengajar di sekolah , aku sendiri tidak begitu meyakini kualitas yang ada pada siswa yang aku ajar untuk kelas yang katanya “ RSBI “ Sering perilaku mereka tidak lebih baik , sopan , dan santun saat KBM .Sementara untuk kemampuan akademik juga tidak lebih baik dalam motivasi untuk berprestasi . Sering siswa dari kelas “ RSBI “ melakukan tawar menawar akan tugas yang harus mereka kerjakan, tidak mau capek dan mencari gampangnya saja . Contoh apabila aku meminta mencari suatu ayat dalam Al Quran di perpustakaan , siswa dari kelas “ RSBI “ langsung menjawab cari di internet ya bu. ( Dasar generasi instans) Beberapa kali saat itu aku mengajar di kelas “RSBI” aku masih cukup toleran dengan kelakuan mereka yang makan dan minum seenaknya dalam kelas , tetapi kadangkala siswa harus berhadapan dengan guru yang sangat disiplin saat belajar dan terjadilah konflik-konflik dengan beberapa guru yang mengajar.Dan akhirnya beberapa guru mengambil kesimpulan awal tentang perilaku yang tak sopan yang sering dilakukan oleh peserta didik dari kelas “ RSBI”tersebut. Dan mencoba menghubungkan dengan kebijakan dari Depdiknas yang ingin membangun karakter ( Caracter Buiding) dalam perilaku siswa , aku berprikir ini merupakan satu kesalahan awal dengan membuat suatu kelas tertentu yang menjadikan siswa di kelas tersebut merasa berbeda dan sedikit exclusive dari teman-teman yang lain kelas. Karena mereka merasa “ saya di sekolah ini membayar” Sehingga guru sering disepelekan dan diabaikan. Aku pun pernah mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan saat harus mengajar di kelas “RSBI” tersebut, Saat aku sudah ada di dalam kelas dan siap untuk mengajar, masih ada beberapa siswa yang keluar masuk untuk makan, aku merasa salah juga dengan sikapku yang tidak melarang mereka berprilaku seenaknya tersebut karena merasa cukup dekat. Tetapi akhirnya emosiku memuncak juga manakala waktu sudah berlalu hampir 10 menit mereka tak kunjung masuk ke kelas , malah yang berada dalam kelas berlari keluar karena mendengar teriakan ada yang berantem, ada yang berantem . Dan saat itu emosiku meledak langsung aku marah karena sangat tersinggung karena diabaikan oleh siswa dari kelas “ RSBI” . Baik kalau tidak mau belajar dengan saya,bagitu kataku langsung meninggalkan kelas “ RSBI “ itu. Nah untuk karakter buiding dari kelas RSBI ini, apakah sudah merupakan cerminan perilaku internasional yang tidak memperdulikan rasa empati, dan toleransi antar manusia. Sebagai guru , aku miris saja karakter bangsa Indonesia seperti yang ada dalam nilai-nilai di Pancasila sebagai dasar negara begitu luhur dan agungnya adalah sebagai bangsa yang santun, menjaga toleransi dll. Sementara tidak begitu dalam kenyataannya.Semakin banyak nilai-nilai yang bergeser dan seakan – akan hal itu malah menjadi trend perilaku. Ingin Internasional tetapi belum memiliki akar yang kuat sebagai pribadi dari suatu bangsa. Tugas berat sebagai guru, orangtua, masyarakat dan pemerintah untuk membenahi agar “Caracter Building”yang menjadi slogan tidak hanya sebatas slogan tanpa makna.Dan akan berganti dengan slogan lain atau UU lain manakala Mentrinya juga berganti. Dan yang lebih mengkhawatirkan perilaku siswa sekarang akan kita petik hasilnya 20 – 30 tahun dari sekarang , karena merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan . Sementara kita yang menjadi pengamat dan mungkin juga korban dari perilaku dan kebijakan yang akan mereka buat untuk masyarakat Indonesia . Semua berawal dari UU Sisdiknas yang tidak berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Kamis, 12 Mei 2011
Hukuman yang tak mendidik
Menurut teori Behavioral yang dikemukakan oleh BF Skinner, Wolpe, Lazarus dan Krumboltz berfokus pada pentingnya mengubah perilaku klien yang dapat diamati . Mengubah perilaku yang maladaptive menjadi perilaku yang adaptif . Tadi pagi aku mendapat laporan permasalahan dari rekan kerjaku, mengenai siswa yang tidak mengikuti pelajaran di kelas saat jam pelajaran salah satu pelajaran dengan alasan ijin untuk makan di kantin. Dan guru yang mengajar di jam pelajaran tersebut merasa tersinggung karena diabaikan. Sudah diselesaikan pada hari yang sama dengan memberi kesadaran pada siswa akan perilaku mereka yang tidak baik. Dan saat jam istirahat beberapa siswa yang melakukan kesalahan di hari kemarin mendatangi ruang BK beramai-ramai menceritakan kejadian yang baru mereka alami dengan guru yang memberi hukuman. Dihukum untuk membawa sesuatu yang tidak pada tempatnya tetapi saat siswa menyatakan bersedia , kemudian mengganti dengan hukuman dalam bentuk uang. Saat mendengar laporan siswa , bahwa permasalahannya menjadi panjang dan berkesan dipanjang-panjangin. Aku berpikir duh memberi hukuman harusnya yang mengandung unsur mendidik. Bukan hanya asal menghukum, pekerjaan sia-sia dan tidak kena sasaran . Aku ingat kembali manakala ada satu rekanku yang bercerita dengan sangat marah karena ada satu siswa yang sangat malas menyelesaikan tugas ( PR) dan rekan guruku memberi hukuman berupa menulis di satu buku tulis untuk berjanji tidak akan lupa lagi mengerjakan pr. Reaksiku waktu itu adalah , setelah dia menulis di satu buku tulis, apakah prnya selesai , dan apakah siswa tersebut menjadi lebih paham akan materi yang belum dia kerjakan? Rekan guru itu waktu itu hanya menggeleng saja. Semenjak itu aku jadi mencoba memahami makna terapi perilakunya BF Skinner , Behavioral Terapi…Menurut terapi behavioral atau terapi perilaku perilaku individu adalah hasil dari proses belajar dan interaksi dengan lingkungannya . Terjadinya masalah berkaitan dengan penyesuaian diri individu dengan lingkungannya.Seringkali siswa di sekolah mengalami kesulitan dalam proses adaptasi atau penyesuaian diri. Saat mereka harus berhadapan dengan suatu situasi tertentu yang berbenturan dengan harapan dan keinginan siswa sebagai remaja. Dan guru memperlakukan siswa dengan memberi suatu hukuman yang terkadang tidak untuk mengubah perilaku siswa, tetapi hanya untuk mengalihkan pemahaman siswa bahwa guru merupakan sosok yang masih memiliki wibawa karena mampu memberi hukuman.Padahal apabila diterapkan terapi perilaku secara konsisten , akan memudahkan bagi siswa untuk diarahkan karena mereka akan belajar tentang perilaku –perilaku yang baik dan tidak baik untuk tetap dilakukan atau ditinggalkan. Dan dalam penerapan terapi perilaku memang ada bagian pemberian hukuman ( punishment) atau penghargaan ( reward) bertujuan agar individu atau siswa yang ber” masalah “ dalam penyesuaian diri dapat belajar tentang perilaku yang mendapat hukuman adalah perilaku yang tidak adaptif, sementara untuk perilaku yang mendapat reward adalah perilaku adaptifnya . Saat guru akan memberi punishment harus dipahami, punishment yang seperti apa yang akan cocok untuk perilaku siswa yang melanggar aturan sehingga siswa tidak akan mengulangi lagi perilaku yang maladaptif .Begitu juga saat siswa melakukan perilaku yang baik reward yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan psikologis siswa. Jangan memberi reward kepada siswa yang bukan kebutuhannya , misal dengan memberi pujian seperti memuji siswa tetapi tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Untuk anak remaja dipuji-puji seperti memuji anak TK. Dan yang terjadi remaja itu akan merasa heran…
Berdasarkan cerita yang terjadi dengan siswa-siswaku dengan guru mata pelajaran di sekolah , kita sebagai guru harus belajar memahami akan memberi hukuman atau reward yang seperti apa kepada siswa disekolah sehingga kita dapat mengarahkan siswa untuk berperilaku secara baik pada situasi di sekolah dan di lingkungan di mana pun mereka berada.
Rabu, 11 Mei 2011
Kesetaraan Gender
Ini bukan pembahasan serius tentang Gender. Tetapi aku memulainya dengan memberi tugas kepada siswa yang kubimbing tentang Gender dan kodrat . Kujelaskan tentang Gender sesuai dengan pemahaman mereka, dan kodrat yang merupakan segala hal yang sudah digariskan oleh Tuhan saat menciptakan hambanya. Ciptaannya berupa laki-laki atau wanita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Gender adalah jenis kelamin , yang membedakan secara fisik antara laki-laki dan perempuan . Sementara kodrat adalah ketetapan yang sudah digariskan dalam kehidupan seorang wanita maupun lelaki.Contoh secara Gender jenis kelaminnya lelaki tetapi berkelakuan sangat feminine dan akhirnya dianggap sebagai waria. Bahkan sampai ada yang berani mengubah jenis kelaminnya untuk mengikuti hasratnya seperti yang dia mau. Padahal secara kodrat Allah telah menurunkan segala yang semestinya yang harus dilakukan oleh seorang wanita dan lelaki. Misalnya secara gender dia perempuan tetapi berprilaku tomboy seperti lelaki dan hal yang tak bisa lepas dari dirinya adalah kodratnya sebagai wanita yaitu melahirkan dan menyusui.Dan kodratnya ini tak akan bisa digantikan oleh pihak manapun. Saat memberi materi tentang kesetaraan Gender di kelas , aku mengambil contoh kejadian yang baru saja dilewati oleh semua orang di dunia. Pernikahan antara Pangeran Wiliam dan Kate Midletton. Begitu megah dan agungnya pernikahan tersebut.Tetapi dari momen tersebut aku mengambilnya untuk menjadi contoh tentang pada hal apa kesetaraan Gender harus diterapkan. Dengan sedikit bercanda aku mengajak salah satu siswa lelaki untuk menjadi Pangeran Wiliam dan aku menempatkan diri sebagai Kate Middletonnya.seakan-akan sedang mengucapkan janji pernikahan . Dari kegiatan itulah dengan mengambil contoh pernikahan Pangeran William dan Kate aku menjelaskan tentang pemahaman kesetaraan berdasarkan janji pernikahan yang diucapkan, yaitu saling mencintai, saling menyayangi dan saling menjaga. Disinilah letak kesetaraan Gender versi pernikahan di kerajaan Inggris Kate Midlleton memiliki harapan agar keberadaannya sebagai wanita juga diperhitungkan sebagai bagian yang dapat juga menjaga pernikahan tersebut. Menjaga pernikahan bukan hanya tugas lelaki sebagai kepala rumah tangga tetapi merupakan tugas bersama sebagai suami dan istri yang akan terus membangun rumah tangga. Padahal jauh sebelum berlangsungnya pernikahan agung, bahkan sangat jauh. Pahlawan nasional Indonesia RA. Kartini yang merupakan putri bupati rembang diminta untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, padahal saat itu Kartini masih ingin untuk sekolah, tapi pada masa itu sekolah hanya diperbolehkan untuk kaum lelaki. Dan Kartini melakukan “pemberontakan” terpuji dengan menuliskan banyak surat kepada sahabatnya di Belanda mengenai harapannya terhadap nasib kaum wanita di Indonesia. Dan surat-surat Kartini kemudian menjadi buku yang cukup memberi inspirasi bagi wanita di Indonesia yaitu buku “ HABIS GELAP TERBITLAH TERANG “. Jadi rasa syukur sebagai wanita yang dilahirkan di bumi Indonesia adalah karena pemikiran Kartini yang memperjuangkan derajat wanita agar setara dengan lelaki tanpa melupakan kodratnya.Sekarang dapat dilihat dengan mudah kaum wanita yang berkiprah dalam bidang yang menjadi keahliannya.
Selasa, 10 Mei 2011
Istiqosah menjelang ujian
Biasanya menjelang ujian nasional yang akan diadakan sebelum hari H ujian . Di banyak sekolah selalu dan pasti diadakan kegiatan doa bersama atau istiqosha. Pada saat itu beramai-ramailah satu sekolah “menghadirkan” Tuhan . Meminta diberi kemudahan saat ujian nantinya. Tidak terkecuali siswa yang memang harus bertempur memperjuangkan nasibnya di selembar kertas lembar jawaban computer,orang tua yang mengkhawatirkan akan nasib masa depan anaknya ataupun guru dan pimpinan di suatu sekolah yang juga turut khawatir apabila banyak siswa yang mengalami kegagalan . Si guru akan dianggap tidak becus dalam mengajar. Sementara untuk tingkat pimpinan akan dianggap gagal memimpin bawahannya yaitu guru dan siswa. Saling berkaitan . Yang diatas menekan guru, guru menekan siswa. Agar semua pihak mendapat keuntungan dan nama baik atas kesuksesan yang diraih oleh siswanya.Sebenarnya semua ingin mendapat simbiosis mutualisma.Tetapi sewaktu kbm masih berlangsung siswa selalu dianggap penentu utama kelulusannya , padahal guru, dan pimpinan sekolah turut mendompleng juga atas kesuksesan siswanya.Siswa dikejar-kejar untuk mengikuti pendalaman materi selalu dijejali oleh mata pelajaran yang akan di ujikan . Tak memperdulikan kejenuhan yang dirasakan oleh siswa.Kasihan siswa sebagai objek dan subjek sekaligus. Dan biasanya 2 hari menjelang ujian diadakan istiqosah, memohon ampun, minta diberi kemudahan dll. Semua doa yang baik-baik. Sebenarnya tidak ada yang salah karena kita sebagai ciptaan Allah selalu ingat akan kebesaraNya, akan ke Maha-an. Tetapi mungkin akan lebih bermakna apabila kita selalu mengajak Allah sebagai yang memiliki Maha untuk selalu hadir dalam kehidupan kita. Bukan hanya saat kita butuh untuk kenikmatan.Dan menurut saya , sebagai pendidik dan orang tua yang akan menghantarkan anak-anaknya untuk menghadapi ujian nasional. Sejak dari awal kita persiapkan siswa untuk siap menghadapi ujian sedari awal dan tetap konsisten mengingatkan akan kelemahan kita sebagai mahluk ciptaan Allah bahwa kita membutuhkan yang memiliki Maha untuk di beri bimbingan dan petunjuk.Dan apabila mengalami suatu kegagalan berani pula menerima resiko tersebut untuk menjadi pelajaran berharga, MANUSIA BERENCANA ALLAH MENENTUKAN. Bukan menganggap Allah tak berpihak pada kita namun cara lain yang dilakukan Allah karena begitu sayang dengan hambanya.