Kejadian tak mengenakkan terjadi pada putriku juga siswa/i ku . Stres menghadapi stres menjelang UN. Saat Try out berlangsung di malam harinya mengigau dan berteriak tak bisa tidur , memandangi tembok kamar yang dilihat soal-soal rumit yang bikin pusing , memandangi langit-langit kamar bayangan soal menari-nari dengan riangnya.Memejamkan mata bayangan soal tersebut menjulurkan lidah seakan mengejek hingga akhirnya menjerit panik.
Tak berbeda dengan yang dialami oleh siswa/i bimbingan ku . Dengan mengganti istilah try out menjadi UCUN (uji coba ujian nasional ) bayangan menakutkan tentang UN disingkapi dengan cara yang berbeda. Menghadapi argumen mereka ketika kedapatan membawa kunci jawaban adalah kami ingin mendapat nilai baik bu pengen bisa bikin bangga orang tua . Oh dengan cara instan nak , kataku . Yang penting bisa bikin orang tua bangga bu . ups ...pr besar ku ini batinku dalam hati .
Menanamkan tentang kejujuran , kepercayaan diri dan menghargai hasil usaha sendiri.
Renunganku saat terjadi hal-hal seperti ini , selalu berulang kegelisahan menjelang UN . Begitu mengerikan pendidikan ketika yang didapat di akhir masa studi harus melewati tahap stres terlebih dahulu . Memberi berbagai kemudahan di awal namun doktrin yang menakutkan di akhir masa .
Mengapa tak dibuat lebih humanis dengan mempersiapkan mental dan emosi untuk kesuksesan maupun kegagalan .Mengajarkan tentang kejujuran, kepercayaan diri dan menghargai usaha sendiri . Karena ketika sukses pun akan ada konsekuensi yang harus dialami . Yang terjadi selama ini hanya menggiring pada kesuksesan sehingga ketika mengalami kegagalan merasa kiamatlah dunianya











