Jumat, 11 Maret 2011

Ber...amal...

Dipagi hari saat tiba di tempatku kerja , aku disuguhi dengan berita tentang ber…amal.Sepertinya saya harus mencari di kamus bahasa Indonesia dan juga mungkin kamus bahasa Arab tentang arti dari ber …amal tersebut. Amal menurut pemahaman saya yang amat terbatas ini adalah memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan. Dan karena rasa penasaran yang dalam tentang arti dari ber…amal…,akhirnya aku melangkahkan kakiku ke perpustakaan sekolah untuk meminjam kamus besar bahasa Indonesia. Mulailah aku mencari arti kata ber…amal tersebut, menurut kamus besar bahasa Indonesia , ber…amal merupakan awalan dari kata amal yang mempunyai arti perbuatan baik yang mendatangkan pahala( menurut ajaran agama Islam ). Adapun makna dari ber…amal adalah berbuat kebajikan, memberi sumbangan atau bantuan kepada orang miskin,organisasi sosial dsb,melakukan sesuatu yang baik seperti memberi nasehat ,bekerja untuk kepentingan masyarakat, mengajarkan ilmu ,mengaji. Memang cukup luas makna dari kata ber…amal itu.Tetapi tetap saja sebagai orang awam aku bertanya, apakah ber…amal juga namanya saat kita tak mampu menerapkan aturan yang semestinya. Ketika ada pelanggaran yang dilakukan oleh oknum tertentu. Dengan bahasa lisan yang diucapkan adalah ber…amal…lah bu ,untuk kebaikannya.kita beri kesempatan hingga kenaikan kelas.Waduh bisa-bisa semua orang akan berdalih sedang ber…amal…dan minta di…amalin untuk menghindari sanksi dari aturan yang ada. Bagaimana peraturan bisa diterapkan dengan baik apabila dalam lingkungan pendidikan hal seperti ini selalu ada pengecualian. Sekolah kan ada untuk mengajar tidak hanya pemahaman akan ilmu tapi juga untuk memperhalus budi pekerti.

Peraturan

Di buku penghubung sekolah ada peraturan yang bermacam-macam tentang perilaku yang boleh dan tidak boleh atau dilarang dilakukan oleh siswa di sekolah. Sanksi yang harus dikenakan pada siswa yang melanggar peraturan yang diterapkan disekolah adalah berupa point. Penambahan point maupun pengurangan tapi ada juga sanksi berupa skorsing ataupun dikeluarkan dari sekolah saat pelanggaran yang dilakukan oleh siswa sudah melewati batas . Idealnya peraturan dapat diterapkan dengan baik apabila setiap siswa memahami untuk tujuan apa peraturan tersebut dibuat . Tetapi yang terjadi malah semakin banyak aturan yang dibuat tidak berdasarkan aturan.Mulai dari membawa tanaman untuk menghias sekolah yang saat itu sedang mengikuti kegiatan tingkat nasional untuk kategori sekolah sehat . Membuat batok kelapa yang diisi dengan tanaman-tanaman obat,membuat hiasan di ruang kelas dari bahan daur ulang . Dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan siswa untuk menambah point plus mereka. Tetapi akan dengan mudah point berkurang saat salah satu dari siswa dalam satu kelas melanggar aturan . Aturan yang dilanggar juga bukan aturan besar tapi hanya karena kelasnya tidak bersih dan regu piket yang hari itu bekerja tidak maksimal membersihkan kelasnya.Menurut saya hal itu bukan masalah besar yang harus diberi ganjaran dengan memberikan hukuman berupa tidak boleh belajar selama satu hari dan pengurangan point.Saat waktu berlalu siswa mulai bertanya bu, point saya sudah mencapai 100 bisa diapain ya? Atau dilain kesempatan saat saya menemui siswa yang kedapatan merokok di sekolah,kalau menurut aturan di buku penghubung siswa tersebut harusnya sudah mengumpulkan point minus 75 ternyata masih dalam kategori aman . Saat yang menangani siswa tersebut adalah saya sebagai guru pembimbing yang tidak memperdulikan aturan di buku penghubung.Yang saya lakukan lebih memberi pemahaman kepada siswa saya yang kedapatan merokok untuk mereka memahami bahaya dari merokok. Hidup adalah pilihan itu lagu dari Kla Project . Jadi saya mengajarkan untuk tidak memberi hukuman atas perilaku mereka, tapi memberi kesadaran . Walau saya amat sadar tidak akan langsung bisa memetik hasil dari sesuatu yang saya lakukan sekarang. Berbeda apabila saya menerapkan hukuman berupa pengurangan point, lebih efektif tapi tidak menyentuh pada pemahaman akan kesadaran.Kembali pada pembahasan akan peraturan yang harusnya diterapkan dengan jelas tanpa pandang bulu. Ternyata masih ada unsur kepentingan yang mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pimpinan.

Apabila mau dievaluasi apakah memang efektif menerapkan peraturan dengan memberi point? Apa yang diharapkan oleh lembaga ini dengan menerapkan point. Kita sama-sama tahu diberbagai kesempatan peraturan yang dibuat pasti selalu dicari celah untuk dilanggar . Dan selalu juga ada alasan belas kasihan saat ingin menerapkan aturan sesuai dengan peraturan yang ada.

Minggu, 06 Maret 2011

Surprise Party

Tak terkatakan perasaan yang aku rasakan saat memasuki satu kelas dimana mereka telah menyiapkan suatu kejutan saat aku merayakan ulang tahun pada tgl 1 Februari 2011.Ada yang berteriak “ ibu selamat ulang tahun,” happy birthday ibu,semoga ibu selalu sehat,bahagia dan semakin rajin beribadah.Dan yang utama semakin sayang dengan kami .Ya Allah begitu perhatiannya mereka pada diriku sampai aku tak mampu mengungkapkan sepatah kata pun dihadapan mereka, aku bersama dengan mereka kemudian bersama-sama membaca surat al fatiha. Mereka dengan tulus mendoakan aku,menyiapkan suatu kejutan yang benar-benar diluar dugaan ku.Mereka rela dimarahi oleh ibu wakil kepala sekolah saat akan meminta ijin keluar sekolah demi menjemput kejutan mereka untuk aku. Aku ditahan tidak diperbolehkan untuk keluar kelas saat jam pelajaranku berakhir karena kejutan mereka untukku belum sampai ke kelas.Dan saat kejutan itu datang ternyata berupa ice cream walls vineta yang akan aku potong sambil meniup lilin ulang tahun yang sudah disiapkan oleh mereka. Terharu dan menyenangkan sekali saat mereka berebutan untuk mendapatkan bagian dari ice cream yang telah ku potong-potong.Sambil berteriak “ ibu saya berdua bu dengan si Jodi,ibu saya dong dari tadi belum dikasih,yah ibu kok saya dilewati lagi.Dan saya juga bingung meladeni permintaan mereka.Sampai dipotongan cake ice cream terakhir yang hanya tersisa creamnya saja merekapun saling berebutan untuk mendapatkan sisa ice cream itu,pemandangan yang menyenangkan.Bukan karena aku senang melihat mereka saling berebutan tapi aku menikmati perilaku mereka yang manja , sok tahu, sksd dan saling nyeletuk bersahut-sahutan .Ramai,riang dan menyenangkan benar-benar seperti gaya anak remaja.

Sabtu, 05 Maret 2011

Kesan pertama...begitu menggoda....

Ingatan saya kembali ke masa lalu sewaktu di televisi sering ditampilkan iklan untuk salah satu produk parfum pria . " Kesan pertama begitu menggoda....selanjutnya terserah anda...begitu kira-kira bunyi kalimat pada iklan tersebut.Dan sekarang saya mengalaminya.
Sewaktu awal mula tahun ajaran baru 2010-2011 dimulai,saya berkenalan dengan siswa/i baru dari tiap kelas. Dengan gaya dan kelincahan pada setiap siswa yang berbeda. Ada satu siswa yang cukup menarik perhatian saya sebagai guru pembimbing mereka.Di awal memasuki kelas siswa tersebut menampilkan perilaku yang sangat sopan untuk ukuran anak seusianya. Seperti biasa saya memperkenalkan diri terlebih dahulu . Menceritakan siapa saya berikut latar belakang pendidikan saya . Dan apa saja yang akan saya ajarkan pada mereka begitu juga harapan saya agar bisa bekerja sama dengan mereka untuk dapat menggali potensi diri mereka. Semua berawal dengan sangat mengesankan dan siswa tersebut mencoba mencari perhatian saya dengan mengatakan saya suka menyanyi bu. Saya jawab dengan bertanya saya boleh dengar suara mu?
Dan dengan percaya dirinya siswa tersebut menunjukkan suaranya. Saya cukup senang dan terhibur mendengar suaranya meskipun siswa tersebut tidak hapal semua lirik lagu yang diyanyikannya.Waktu berganti minggu ,bulan dan memasuki semester 2 di sekolah ini, saya mulai merasa bahwa siswa ini hanya ingin diperhatikan saja. Banyak kegiatan selama proses belajar mengajar tidak dapat diikuti dengan baik. Sewaktu menerima rapot semester 1 nilai akademiknya sangat tidak memuaskan. Dan sebagai pembimbingnya saya prihatin dengan keadaannya saya bertanya pada semua rekan kerja saya yang mengajar siswa tersebut jawaban sama yang saya terima siswa tersebut tidak memiliki kemampuan akademik yang baik, hanya pandai menarik perhatian guru dengan membuat pertanyaan-pertanyaan . Saya tetap menilai positif paling tidak siswa tersebut memiliki keberanian dan verbalisasi yang baik dan santun. Itu modal yang dimilikinya . Tetapi sekolah bukan hanya mengajarkan siswa untuk berani dan pintar berbicara. Sekolah juga mengajarkan siswa untuk bisa bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan kelompok, maupun kegiatan individu. Hal inilah yang belum dikuasai oleh siswa tersebut, dia selalu memaksakan kehendaknya saat harus bekerja dalam kegiatan kelompok. Tidak mau mendengar pendapat orang dan ngambek apabila idenya tidak diikuti. Namun saat idenya diikuti oleh teman-temannya dia juga tidak mau bekerja . Mungkin menurutnya harga ide lebih mahal dari kerja nyata. Saya sebagai pembimbingnya juga merasa kecewa saat saya meminta dia bersama dengan kelompoknya untuk mempresentasikan hasil kerja yang sudah saya tugaskan selama 3 minggu dan pada hari H nya tak satupun yang bisa ditampilkannya. Saat saya bertanya pada teman kelompoknya semua menunduk tak berani untuk menyalahkan siswa tersebut. Karena sebenarnya hasil kerja kelompok tersebut sudah ada dalam laptop siswa tersebut tapi datanya hilang karena keteledoran siswa tersebut.
Beberapa hari belakangan saya semakin sering mendapat laporan baik dari teman-teman siswa itu maupun dari rekan guru mengenai perilaku siswa itu yang suka melalaikan tugas -tugas sekolahnya.Saya mengumpulkan berbagai informasi perilaku siswa tersebut semua temannya mengatakan dulu awal-awal dia bagus banget deh, teman yang menyenangkan tapi ternyata dia begitu. Karena itulah saya jadi ingat dengan iklan zaman dahulu " Kesan pertama begitu menggoda...selanjutnya terserah anda...."

Unjuk kerja

Beberapa hari yang lalu saya mendapat telepon dari rekan kuliah yang sekarang sudah kembali ke daerahnya . Dia bercerita tentang kegiatan yang dilakukannya setelah menyelesaikan pendidikan profesi konselor setahun yang lalu. Dan saya seperti mendapat setruman yang amat tinggi tegangannya. Saya kagum sekali manakala dia bilang dia sedang giat melakukan kegiatan Bimbingan Konseling Kelompok dari rumah ke rumah. Dia mengumpulkan siswa-siswanya dengan melakukan pemetaan untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dan melakukan kegiatan Bimbingan Konseling kelompok di rumah. Sambutan dari orang tua siswa terhadap kegiatan tersebut sangat baik dan terutama siswa juga merasa sangat terbantu untuk menyelesaikan masalahnya. Siswa juga semakin merasa dekat dengan konselornya.Karena siswa merasa tidak ada aturan saat mereka berbicara diluar lingkungan sekolah .Kegiatan yang dilakukan oleh rekan saya tersebut sangat menginspirasi saya walaupun saya masih harus mempertimbangkan andaikata saya juga melakukan kegiatan yang sama seperti rekan saya tersebut, mampukah ? Dengan banyak pertimbangan kalau memakai analisa SWOT yang saya pikir pastilah tantangannya dahulu. Saya harus door to door ke rumah siswa untuk melakukan kegiatan Bimbingan Konseling kelompok, ini Jakarta bung macet dimana-mana,kapan saya sampai rumah. Padahal itulah salah satu penghambat kemajuan pesismis !!!

Keesokan harinya saya mendapat berita dari teman sesama guru pembimbing di sekolah tentang undangan pemilihan Pengurus Bimbingan Konseling DKI ,bukan soal undangannya yang membuat saya bereaksi negatif tetapi embel-embel yang menghimbau untuk membeli bahan seragam untuk pengurus sanggar DKI.Saya berpikir buat apa sih kalau hanya untuk tampilan fisik saja .Yang dibutuhkan sebenarnya unjuk kerja ke BK-an . Masih banyak kok yang bisa dilakukan guru pembimbing selain menjual bahan baju . Sementara kegiatan ke BK-an apa yang telah dilakukan oleh sebagian guru pembimbing? Pastinya semua yang berkaitan dengan profesionalisasi guru BK ? Menurut saya belum ada karena yang selalu dibahas hanya tentang RPP saja.Kapan mau profesionalnya Unjuk kerja hanya sebatas menuliskan laporan harian,mingguan dan tahunan. Yang lebih jauh dari itu baru sekedar angan-angan belaka.Administrasi tanpa menyentuh kebutuhan siswa.Padahal siswa sangat butuh sentuhan dari para guru yang bisa memahami kebutuhan mereka .Dan hal itu yang belum dimiliki atau dipahami oleh guru pembimbing di sekolah . Laporan atau unjuk kerja masih sebatas pada laporan asal ada saja.


Jumat, 04 Maret 2011

Emosi

Beberapa hari yang lalu aku telah menulis tentang perasaan dan emosi.Dan hari ini aku masih ingin membicarakan tentang emosi juga. Dalam beberapa hari yang lalu ada suatu kejadian yang menguras emosi. Emosi dari yang terlibat perbincangan maupun yang melihat kejadian tersebut. Saat itu ada orang tua siswa yang merasa terdesak dengan perilaku anaknya yang sering membuat masalah. Dan saat sang guru menyarankan agar anaknya pindah sekolah saja dan mencari sekolah yang mau menerima anaknya dengan perilaku seperti itu.Si orang tua merasa tersinggung dan bertanya yang benar saja dong bu ,sekolah mana yang mau menerima anak dengan perilaku seperti anak saya. Tugas sekolah kan mendidik siswa untuk berperilaku baik bukan hanya urusan akademik saja,begitu pembelaan yang dilakukan oleh orang tua.Dan saya tidak membela salah satu pihak ,teman sesama guru ataupun orang tua siswa. Yang ingin saya bahas adalah tentang emosi. Apapun latar belakang nya pendidikan maupun sosial ekonomi .Saat seseorang berada dalam kondisi terdesak perilaku apapun kemungkinan akan diperlihatkan. Reaksi emosi yang wajar sebenarnya. Dan orang tua tersebut berarti telah memperlihatkan sensitifitas yang cukup peka terhadap keadaan yang mengancam harga dirinya, walaupun kemudian yang menjadi penyesalan panjang adalah saat si guru ternyata juga bereaksi sama atas saran yang diucapkannya.Dan setelah itu terjadilah perdebatan sengit ( Bukan contoh yang patut ditiru ). Dari kejadian itu ternyata berbuntut panjang sampai dengan ancaman dikeluarkan dari sekolah. Sekali lagi saya tidak sedang membela salah satu pihak. Hanya sebagai bahan pemikiran saya adalah apapun latar belakang pendidikan , tingkat sosial ekonomi saat seseorang merasa terancam harga dirinya akan bereaksi mengumbar emosi. Dan selalu penyesalan datang diakhir kejadian . Cerita tidak hanya berhenti sampai dengan penyesalan si orang tua, berlanjut di lain kesempatan pada perilaku tidak puas si guru yang mengumpulkan para pengurus kelas dan mempengaruhi teman si siswa yang bermasalah tersebut untuk memantau dan memata-matai perilaku siswa bermasalah itu agar proses keluar dari sekolah semakin lancar karena memiliki cukup bukti atas perilaku siswa tersebut yang sering melanggar aturan sekolah. Untuk perilaku guru tersebut saya jadi berpikir bukankah ini juga bagian dari si guru menunjukkan emosi dalam bentuk marahnya???

Rabu, 02 Maret 2011

Mencari jati diri

Bu...tolong tuh anaknya pake jaket di dalam kelas, kata seorang guru yang melaporkan perilaku salah satu siswanya pada ku. Sebagai guru pembimbing di sekolah aku terbiasa mendapat laporan-laporan seperti itu.Dan lama kelamaan aku mulai berpikir...waduh...urusan pentingkah itu? Prinsipkah?Siswa yang aku ajar dan didik di sekolah ini mulai memasuki usia remaja.Pendapat ahli psikologi di usia ini remaja cenderung mengalami banyak perubahan baik itu perubahan fisik maupun perubahan psikis. Beberapa perilaku dari remaja yang seringkali menjadi perbincangan di kalangan orang tua adalah manakala si remaja dengan gaya masa kininya memperlihatkan perilaku dan gaya berpakaian dengan mengikuti tren yang berlaku di zaman sekarang . Seakan -akan itu menjadi masalah besar manakala si remaja seperti contoh yang terjadi di sekolah saya. Padahal si orang tua termasuk di antaranya saya sebagai guru kan dulu juga pernah muda dan mengalami masa-masa mengikuti gaya berpakaian sesuai dengan zamannya . Apakah mereka termasuk juga saya lupa bahwa dulu juga pernah menjadi remaja dan pastinya juga bikin pusing orang -orang dewasa.Mungkin itu yang menyebabkan selalu saja ada kesenjangan komunikasi karena si orang dewasa dengan gaya tuanya selalu berperilaku mengajari sementara remaja dengan gaya perilaku sok taunya merasa jenuh selalu diajari.
Sebaiknya kedua pihak ya sama-sama mendengar dan terbuka terhadap perubahan zaman saat ini.Adakalanya orang tua juga harus belajar dari remaja dan remaja juga belajar dari orang tua tentang kehidupan.Remaja kan sedang mencari identitas dirinya. Jadi bantulah remaja -remaja kita menemukan "Diri "nya secara baik.Agar saat mereka nanti menjadi dewasa tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah kita lakukan.