Jumat, 04 Maret 2011

Emosi

Beberapa hari yang lalu aku telah menulis tentang perasaan dan emosi.Dan hari ini aku masih ingin membicarakan tentang emosi juga. Dalam beberapa hari yang lalu ada suatu kejadian yang menguras emosi. Emosi dari yang terlibat perbincangan maupun yang melihat kejadian tersebut. Saat itu ada orang tua siswa yang merasa terdesak dengan perilaku anaknya yang sering membuat masalah. Dan saat sang guru menyarankan agar anaknya pindah sekolah saja dan mencari sekolah yang mau menerima anaknya dengan perilaku seperti itu.Si orang tua merasa tersinggung dan bertanya yang benar saja dong bu ,sekolah mana yang mau menerima anak dengan perilaku seperti anak saya. Tugas sekolah kan mendidik siswa untuk berperilaku baik bukan hanya urusan akademik saja,begitu pembelaan yang dilakukan oleh orang tua.Dan saya tidak membela salah satu pihak ,teman sesama guru ataupun orang tua siswa. Yang ingin saya bahas adalah tentang emosi. Apapun latar belakang nya pendidikan maupun sosial ekonomi .Saat seseorang berada dalam kondisi terdesak perilaku apapun kemungkinan akan diperlihatkan. Reaksi emosi yang wajar sebenarnya. Dan orang tua tersebut berarti telah memperlihatkan sensitifitas yang cukup peka terhadap keadaan yang mengancam harga dirinya, walaupun kemudian yang menjadi penyesalan panjang adalah saat si guru ternyata juga bereaksi sama atas saran yang diucapkannya.Dan setelah itu terjadilah perdebatan sengit ( Bukan contoh yang patut ditiru ). Dari kejadian itu ternyata berbuntut panjang sampai dengan ancaman dikeluarkan dari sekolah. Sekali lagi saya tidak sedang membela salah satu pihak. Hanya sebagai bahan pemikiran saya adalah apapun latar belakang pendidikan , tingkat sosial ekonomi saat seseorang merasa terancam harga dirinya akan bereaksi mengumbar emosi. Dan selalu penyesalan datang diakhir kejadian . Cerita tidak hanya berhenti sampai dengan penyesalan si orang tua, berlanjut di lain kesempatan pada perilaku tidak puas si guru yang mengumpulkan para pengurus kelas dan mempengaruhi teman si siswa yang bermasalah tersebut untuk memantau dan memata-matai perilaku siswa bermasalah itu agar proses keluar dari sekolah semakin lancar karena memiliki cukup bukti atas perilaku siswa tersebut yang sering melanggar aturan sekolah. Untuk perilaku guru tersebut saya jadi berpikir bukankah ini juga bagian dari si guru menunjukkan emosi dalam bentuk marahnya???

4 komentar:

  1. Wah,wah itukan salaah..!!Tugas sekolah memang untuk mendidik secara perilaku dan akademik siswa,Tapi.. Hanya selama di sekolah, Sisanya saat di rumah hal itu menjadi tugas ortunya. Lagian masa ortunya malah ngomong 'Mana ada sekolah yang mau menerima anak dengan perilaku seperti anak saya' HAH!! Itu tuh! Mana ada yang mau..? Itu mah sama aja ortunya udah nyerah dengan anaknya sendiri!! Kalau sifat anaknya jadi begitu biasanya ada 2 kemumnkinan yang pasti(Ok,gak pasti deh), Satu anak itu sifatnya begitu karena lingkungan di rumahnya bersama keluarga gak bener, Atau yang kedua karena pergaulan bebas.

    BalasHapus
  2. Adhasha elvira andhalusia...saya suka pendapat kamu....ini yang belum pernah saya tau saat di kelas...kayaknya saya juga tergoda untuk kenal kamu lebih baik...biar saya bisa belajar banyak tentang potensi kamu

    BalasHapus
  3. Ok ibu ini udah ketiga kalinya saya coba comment yg gagal mul dari tadi kalo masih gagal.. saya comment pake hp, Ok.. Ibu bisa menulis nama saya tanpa salah eja!! Hebat bu!!,Ibu bilang saya punya potensi ya..? Mungkin gara-gar cara pikir saya beda dari yang lainnya bu.

    BalasHapus
  4. itu yang saya suka karena kamu beda dan memang harus beda dari yang lain. Itu menunjukkan kamu kreatif .

    BalasHapus